
Oleh : Abdul Hafiz
Sekian masapun berlalu tanpa disadari, Kota Ku yang tercinta kini sudah semakin ramai dan berkembang pesat, dulunya sawah-sawah yang membentang luas kini menjadi Ruko-ruko, dulunya tanah yang coklat memerah, kini menjadi abu-abu ditimpa cor-coran semen pertokoan
Melihat bangunan fisiknya dapatlah kita acungkan jempol, namun amat disayangkan juga, pembangunan moral tidak berbanding lurus dengan pembangunan fisik Kota ku yang tercinta.
Mengapa tidak, Anak Gadih MINANG, yang dulunya ramah dan penakut, kini berubah menjadi PAMBERANG (Pemarah/Menantang dan GATA ( Centil/Nakal).
Inikah wajah Bukittinggi yang aku cintai, saya rasa ini hanya kesalahan proses pengasuhan si Bayi yang kini tumbuh bersemi












4 komentar:
Saya besar di Bukittinggi tepatnya di Lambau!
sangat miris mendengarnya
aku juga jadi ikut prihatin ya...aku pernah ke bukittinggi tapi dah lama banget-th 99, pemandangannya masih bagus deh..sawah2nya juga masih banyak apalagi pemandangan rumah teman tempat aku nginep...wow luar biasa deh buka pintu keliatan kolam terus sawah dinaungi oleh gunung.
diantara padang gersang selalu ada oase yang menyegarkan. jangen pula biarkan oase itu kering. mari kita rebut kembali gemerasi minang seutuhnya mulai dari diri kita,,,
Jagalah Bukittinggi adik2-ku dan tanamkan lah benih2 unggul yang baru dengan baik, kalau batang yang tarandam sudah tidak bisa dibangkit-kan, karena sudah berjamur karena sudah terlalu lama didalam air.......
Post a Comment