
Oleh : Abdul Hafiz
Hati mana yang bisa dibohongi dengan kenyataan yang terjadi, ketika mereka para Dhuafa diacuhkan sebelah mata, dengan keringat yang bercucuran didahinya.
Siang yang terik menyengat bagaikan embun pagi yang menyentuh pipinya, begitulah gambaran sang peminta, di sepanjang jalan ketika saya menuju sungai Lilin - Sumatera Selatan, ( Senin, 04 Febuari 2008 ).
Betapa pilu bercampur haru ketika asap tebal hitam pekat menyelimuti keseharian mereka yang berdiri ditengah Jalanan didepan Mushala yang sedang dalam tahap pembangunan.
Dengan latar belakang ketidakmapuan mereka dalam menyelesaikan pembangunan Mushala/Masjid yang mereka pergunakan untuk Ta'abbudi Ilallah SWT, mereka meminta-minta dijalanan agar bisa mendapatkan tambahan dana, karena hanya dengan cara tersebut mereka bisa merampungkan bangunan tersebut.
Melihat fenomena yang terjadi, hal ini disebabkan karena faktor ketidak tahuan mereka akn adanya dana yang bisa mereka dapatkan selain dengan cara diatas dan membuang-buang tenaga dan waktu. sebenarnya pemerintah setempat mesti tanggap dan segera membantu dan menasehati mereka karena hal yang mereka lakukan selain membahayakan nyawa mereka juga kesehatan mereka sendiri, betapa tidak kabut tebal, asap, dan cuaca yang tidak bersahabat.
Walaupun hanya baru bisa dengan uang ribuan yang diberikan, paling tidak bisa merubah raut muka mereka kepada senyum dengan keikhlasan, daripada dengan bunyi klakson dari para pengemudi yang sedang dikejar waktu tanpa memberi apa-apa.












0 komentar:
Post a Comment